April 29, 2026

Indy Ten Point

Indy Ten Point

Mengapa The New Mutants Menjadi Film X-Men Paling Kontroversial? Ini Alasannya!

Sejak pertama kali diumumkan, film The New Mutants telah menarik perhatian para penggemar Marvel, khususnya penggemar semesta X-Men. Bagaimana tidak, film ini menjanjikan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya dalam waralaba X-Men—menggabungkan genre horor psikologis dengan kisah remaja mutan yang mencoba memahami dan mengendalikan kekuatan mereka. Namun sayangnya, alih-alih menjadi gebrakan baru yang sukses, The New Mutants justru menjadi salah satu film X-Men yang paling kontroversial dan penuh perdebatan. Bahkan bisa dibilang, film ini seperti “anak tiri” dari franchise X-Men yang penuh lika-liku. Silahkan kunjungi juga http://lk21rebahin.id/ untuk mendapatkan informasi lebih mendalam seputar film menarik lainnya.

Lalu apa yang membuat film ini begitu kontroversial? Mengapa banyak orang kecewa, bingung, atau bahkan marah setelah menontonnya? Dalam artikel ini, kita akan membahas berbagai alasan yang menjadikan The New Mutants sebagai salah satu film paling rumit dan penuh drama—baik di dalam maupun di luar layar.

1. Jadwal Rilis yang Berlarut-larut dan Tidak Jelas

Salah satu hal paling mencolok dari kontroversi The New Mutants adalah masalah rilis yang berkepanjangan. Film ini awalnya direncanakan untuk tayang pada April 2018, namun akhirnya baru bisa dirilis lebih dari dua tahun kemudian, yaitu pada Agustus 2020.

Alasan utama dari penundaan ini bermacam-macam, mulai dari keinginan studio untuk melakukan reshoot besar-besaran guna memperkuat elemen horor, hingga merger besar antara 20th Century Fox dan Disney yang mengguncang seluruh lini produksi film X-Men. Bahkan ketika film akhirnya dijadwalkan ulang, pandemi COVID-19 kembali menunda perilisan dan membuat banyak penonton tidak bisa menontonnya di bioskop.

Penundaan demi penundaan ini menciptakan persepsi negatif bahwa film ini “bermasalah” atau “belum siap”, yang kemudian berdampak pada ekspektasi dan penerimaan publik saat akhirnya dirilis.

2. Ketidakjelasan Arah Cerita dan Tonal Shift

Sejak awal, The New Mutants dijanjikan sebagai film superhero dengan nuansa horor, sesuatu yang cukup segar dalam dunia Marvel maupun X-Men. Dalam trailer pertamanya, film ini menampilkan suasana menyeramkan, jump scare, dan tema psikologis yang mengingatkan pada film horor seperti The Ring atau A Nightmare on Elm Street.

Namun saat film akhirnya dirilis, banyak penonton merasa bahwa elemen horor yang dijanjikan ternyata sangat minim. Cerita lebih terasa seperti drama remaja dengan sentuhan supranatural, bukan horor penuh ketegangan seperti yang diiklankan. Hal ini membuat banyak orang merasa “tertipu” oleh kampanye promosinya sendiri.

Sebagian pengamat percaya bahwa perubahan arah ini terjadi karena perbedaan visi antara sutradara Josh Boone dan pihak studio, terutama setelah film ini jatuh ke tangan Disney. Boone ingin filmnya menjadi horor remaja yang psikologis dan kelam, sementara studio tampaknya ingin menjaga film tetap aman untuk rating PG-13 dan pasar remaja.

3. Minimnya Keterkaitan dengan Waralaba X-Men Lainnya

Sebagai bagian dari dunia X-Men, banyak penggemar berharap The New Mutants akan memiliki hubungan yang kuat dengan film-film sebelumnya. Namun kenyataannya, film ini nyaris berdiri sendiri dan tidak menyebutkan karakter-karakter utama X-Men seperti Profesor X, Magneto, atau Wolverine secara langsung.

Satu-satunya koneksi adalah referensi samar kepada Essex Corporation, sebuah organisasi misterius yang juga muncul di film Logan (2017). Namun tanpa pengembangan lebih lanjut, referensi ini hanya terasa seperti hiasan yang tidak pernah diberi makna lebih dalam.

Kurangnya keterkaitan dengan semesta X-Men yang lebih luas membuat film ini terasa seperti spin-off yang tidak punya tempat yang jelas di dalam franchise. Ini membingungkan banyak penggemar yang berharap cerita Dani Moonstar dan kawan-kawan akan menjadi jembatan menuju generasi X-Men baru.

4. Kurangnya Reshoot yang Dijanjikan

Setelah Fox melihat potensi horor dalam film ini, mereka sebenarnya berencana untuk melakukan reshoot besar-besaran untuk memperkuat suasana menyeramkan dan memperbaiki beberapa elemen cerita. Namun karena merger Fox dan Disney serta berbagai kendala produksi, reshoot tersebut tidak pernah dilakukan.

Hal ini berdampak besar pada kualitas akhir film. Banyak bagian film yang terasa mentah, tidak selesai, dan kurang eksplorasi. Bahkan sang sutradara sendiri, Josh Boone, mengakui bahwa versi yang dirilis adalah hampir 100% dari hasil syuting awal di tahun 2017, tanpa ada tambahan adegan besar.

Dengan kata lain, film yang akhirnya kita tonton di tahun 2020 adalah versi awal yang tidak mengalami banyak perbaikan atau penyempurnaan. Ini menjelaskan mengapa film ini terasa pendek, terburu-buru di bagian akhir, dan tidak terlalu mendalam dalam pengembangan karakternya.

5. Kontroversi Soal Representasi Ras dan Karakter

Kontroversi lain yang cukup besar muncul terkait dengan pemilihan aktor dan representasi karakter, terutama dalam kasus Sunspot, atau Roberto da Costa, mutan asal Brasil.

Dalam komik, Roberto digambarkan sebagai pria kulit gelap dengan darah Afro-Brasil. Namun dalam film, karakter ini diperankan oleh Henry Zaga, aktor berkulit terang yang tidak mencerminkan latar belakang ras karakter aslinya. Ini memicu kritik dari komunitas penggemar dan aktivis representasi rasial, yang menganggap Fox atau Disney tidak serius dalam mewakili keberagaman.

Di sisi lain, film ini juga mendapat pujian karena menampilkan hubungan sesama jenis antara Rahne Sinclair (Maisie Williams) dan Danielle Moonstar (Blu Hunt) secara sensitif dan tidak berlebihan. Hubungan ini menjadi bentuk representasi LGBTQ+ yang jarang ditampilkan secara serius dalam film superhero.

Namun demikian, isu casting Roberto tetap menjadi noda dalam film yang seharusnya bisa menjadi simbol keberagaman mutan.

6. Penilaian dan Ulasan yang Terbelah

Ketika akhirnya dirilis, The New Mutants menerima kritik yang sangat beragam. Di situs agregator ulasan seperti Rotten Tomatoes, film ini mendapatkan rating rendah, berkisar di angka 35-40%. Kritikus menganggap film ini membosankan, minim aksi, dan tidak memenuhi janji genre horornya.

Namun, sebagian penonton justru menganggap film ini unik dan emosional, terutama dalam menggambarkan trauma psikologis dan hubungan antar karakter. Beberapa bahkan menyukai pendekatan kecil dan tertutup yang lebih fokus pada perkembangan karakter ketimbang pertempuran besar.

Reaksi yang terbelah ini membuat film menjadi bahan perdebatan. Apakah The New Mutants adalah film buruk yang gagal memenuhi ekspektasi? Atau justru film eksperimental yang tidak dimengerti karena keluar dari formula superhero biasa?

7. Tidak Jelasnya Nasib Sekuel dan Masa Depan Karakter

Sutradara Josh Boone sebenarnya memiliki rencana untuk membuat trilogi New Mutants, di mana setiap film akan memiliki gaya genre yang berbeda: horor, supernatural, dan sci-fi. Namun karena merger Disney-Fox dan kinerja film ini yang biasa-biasa saja di box office, rencana tersebut dibatalkan.

Akhirnya, film ini menjadi seperti jalan buntu—sebuah cerita yang tidak dilanjutkan dan karakternya tidak pernah muncul lagi dalam semesta Marvel. Padahal karakter seperti Illyana Rasputin dan Dani Moonstar punya potensi besar untuk berkembang jika diberi ruang.

Kini, dengan Marvel Studios memegang kendali penuh atas franchise X-Men, masa depan para karakter di The New Mutants menjadi tidak pasti. Banyak penggemar berharap mereka bisa muncul lagi di MCU, mungkin dengan casting baru dan cerita yang lebih matang.

Kesimpulan: Eksperimen yang Terjebak di Tengah Perubahan

The New Mutants bukanlah film superhero biasa. Ia adalah film yang berani mencoba hal baru—menggabungkan horor, drama remaja, dan dunia mutan dalam satu kisah. Namun sayangnya, keberanian itu tidak didukung dengan eksekusi yang tepat, serta terganggu oleh berbagai masalah eksternal seperti merger studio, pandemi, dan ketidakjelasan arah produksi.

Film ini kontroversial bukan karena kualitas teknisnya semata, tetapi karena cerita di balik layarnya yang penuh konflik dan keputusan bisnis. Dari penundaan rilis, perubahan arah cerita, hingga isu representasi, semuanya berkontribusi dalam menjadikan The New Mutants sebagai film X-Men yang paling “bermasalah” sepanjang sejarah franchise.

Meski begitu, film ini tetap memiliki penggemarnya sendiri. Karakter-karakternya yang emosional, pendekatan intim terhadap trauma, dan visual horor ringan tetap meninggalkan kesan tersendiri. The New Mutants mungkin bukan puncak dari dunia X-Men, tetapi ia tetap menjadi bagian penting dari eksperimen Marvel yang layak dikenang—sebagai cermin dari keberanian dan ketidakpastian dalam industri film superhero modern.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *