October 20, 2021

Indy Ten Point

Indy Ten Point

Kisah Gadis Anastasia Pengidap Kaki Gajah asal Sumba, Hingga Kini Belum Terima Donasi Biaya Operasi

3 min read

Kisah seorang gadis asal Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) menderita kaki gajah sejak kecil. Ia bernama Anastasia Arnonce Lence atau dipanggil Anastasia. Di usianya saat ini, gadis 22 tahun itu tak bisa beraktifitas bebas layaknya orang pada umumnya.

Saat berjalan, ia membutuh tongkat untuk bisa menompang bengkakan kakinya. Meskipun begitu, gadis asal Sumba memiliki semangat dan keinginan untuk sembuh. Hal itu diungkapkan oleh kerabat keluarga jauhnya, Bibiana Bili Tambolaka atau kerap disapa Mama Eka.

Mama Eka menerangkan, sudah ada beberapa pihak mengunjungi Anastasia. "Ada kemarin kunjungan dari ibu pangdam Bali, Denpasar," lanjutnya. Tetapi, sampai sekarang belum ada pihak yang berinisiatif membawa Anastasia untuk tindakan operasi.

Rencananya, hari Senin (12/4) mendatang, Mama Eka akan membawa Anastasia ke RS Karitas Weetabula, ada maupun tanpa bantuan donasi. "Saya berencana membawa nona Anastasia ke dokter hari senin walaupun belum ada bantuan." "Saya sudah konsul tadi disuruh urus surat keterangan dari puskesmas setempat. Dan hari senin di minta ke rumah sakit," cerita Mama Eka.

Mama Eka berharap kedepannya ada pihak yang benar benar membantu donasi operasi kaki Anastasia. Sebelumnya, sekitar bulan Januari Februari lalu, Anastasia sempat menerima kunjungan pemeriksaan dokter dari RS Karitas Weetabula. Informasi ini disampaikan oleh kerabat jauh Anastasia, Bibiana Bili Tambolaka atau kerap disapa Mama Eka.

"Bulan lalu, ada dokter dari RS Karitas dengan suster turun (lokasi,red). Informasi dari dokter, anak ini memang punya kelainan." Namun, kata Mama Eka, itu baru pemeriksaan dokter secara singkat, belum secara spesifik dengan alat medis. Penanganan media yang bisa dilakukan pada Anastasia, yakni dengan operasi.

"Anaknya bisa dioperasi tapi harus beberapa kali," tambah Mama Eka. Anastasia tinggal bersama orang tua dan 6 saudaranya di Weelambonga, Desa Pero, Kecamatan Wejewa Barat, Sumba Barat Daya, NTT. Kediaman Anastasia itu pun jauh dari akses kota.

Menurut cerita Mama Eka, Anastasia memiliki semangat untuk sembuh. "Anak itu punya keinginan untuk sembuh," cerita Mama Eka. "' Gimana caranya mengurangi beban saya' ," ucapnya menirukan bicara Anastasia.

Bahkan, Anastasia tak masalah jika tak bisa sembuh seratus persen. Yang penting baginya, bagaimana mengurangi beban pada kakinya. 'Gimana caranya saya bisa sembuh, bisa berjalan walaupun tidak bisa normal' ."

'Senggaknya kaki saya tak seberat ini' ," kata Mama Eka meniru ucap Anastasia. Sejak lahir, kaki Anastasia memang ada goresan. Goresan ini diduga menyebabkan kakinya bengkak sampai sekarang.

"Dari lahir Anastasia sudah ada penyakit bawaan." "Jadi, kakinya ada goresan merah pada bagian punggung kaki kirinya," ucap Mama Eka. Namun, kedua orang tua Anastasia tak menghiraukan goresan itu.

Akhirnya, kaki Anastasia itu mulai terlihat bengkak pada umur 10 tahun. Tahun 2014 lalu, gadis asal Sumba itu sempat dibawa ke RS Karitas Weetabula, Sumba Barat Daya. Pihak RS menyarankan Anastasia untuk menjalani perawatan di Bali.

Terhalang biaya, orang tuanya tak bisa membawa Anastasia berobat ke sana. "Dokter menyarankan untuk dibawa ke bali, cuman terkendala biaya," cerita Mama Eka. Diketahui, kedua orang tua Anastasia hanya bekerja sebagai petani sayur di kampung.

Hasil panennya tak cukup membiayai operasi Anastasia. Akhirnya, kedua orang tuanya lebih memilih cara pengobatan dengan adat istiadat kampungnya. "Kebanyakan kami di sini, jika ada yang sakit, kami percaya medis."

"Tapi lebih banyak pilih menempuh jalur alternatif, percaya adat, mungkin arwah nenek moyang yang marah," kata Mama Eka. "Urus adat, panggil dukun. Bukan obat obat tradisional," lanjutnya. Mama Eka mengatakan, kaki Anastasia kerap kambuh terasa sakit, tidak tentu waktunya.

Untuk itu, Anatasia hanya bisa meminum obat pereda nyeri. "Kalau sakitnya kambuh itu baru dia ke puskesmas setempat untuk dikasih penghilang nyeri," kata Mama Eka.

More Stories

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *